Seorang peneliti muda ditempatkan di tengah hutan untuk merekam suara langka binatang malam. Ia membangun menara dengan antena canggih, tetapi hari-hari berlalu tanpa hasil. Frustrasi, ia hampir menyerah ketika seorang pengembara tua berkata, “Antena mu memang kuat, tetapi kau lupa menyetelnya pada frekuensi yang tepat. Dengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan kesabaran.” Peneliti itu pun duduk dalam keheningan, menyetel ulang peralatannya, dan akhirnya menangkap suara kicau burung langka yang tak pernah terdengar sebelumnya. Seperti antena yang perlu disetel, kita pun sering melewatkan hikmat karena sibuk dengan frekuensi kita sendiri, padahal Tuhan sedang berbicara melalui didikan dan pengetahuan di sekitar kita.
Amsal menggunakan dua perintah aktif “arahkan perhatianmu kepada didikan” dan condongkan “telingamu kepada kata-kata pengetahuan”. Kata didikan dalam hal ini tidak sekadar berarti ajaran, tetapi instruksi yang memperbaiki karakter, baik itu dalam bentuk teguran atau disiplin. Sementara kata-kata pengetahuan, merujuk pada ucapan yang mengandung kebijaksanaan Ilahi. Kata “arahkan” juga menggambarkan gerakan fisik yang secara aktif dilakukan untuk tidak melewatkan satu kata pun yang dinyatakan Tuhan kepada kita melalui Firman-Nya. Ini adalah panggilan untuk mendengar secara aktif, bukan pasif. Dengan kerendahan hati, bukan kecongkakan.
Jika seorang siswa yang sedang bersemangat mempelajari bahasa asing: ia tak hanya mendengar, tetapi memperhatikan dengan seksama, menirukan, mencatat, dan berlatih setiap hari. Begitu pula dengan hikmat Ilahi, ia membutuhkan telinga yang terlatih dan hati yang terbuka. Setidaknya mulailah dengan menyisihkan waktu setiap pagi untuk membaca Firman-Nya secara perlahan, bukan sekadar dibaca, tetapi diperhatikan secara seksama dan direnungkan. Saat guru atau atasan memberi koreksi, jangan segera membela diri, tanyakan dalam diri: “Apa yang bisa aku pelajari dari ini?” Ketika menghadapi situasi sulit, berhenti sejenak dan dengarkan suara hati nurani yang mungkin sedang menyampaikan teguran Tuhan. Ingatlah, bahwa didikan sering datang melalui cara yang tidak nyaman, kritik yang jujur, kegagalan yang pahit, atau bahkan keheningan yang menguji kesabaran. Namun, semua itu adalah frekuensi Allah untuk membentuk kita menjadi pribadi yang terus bertumbuh dalam hikmat-Nya. –mb
POKOK DOA
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menyukai didikan, meskipun ia datang melalui jalan yang tidak menyenangkan. Ajarlah kami supaya senantiasa mengarahkan telinga kami kepada kata-kata pengetahuan, agar hidup kami semakin serupa dengan Kristus, Sang Hikmat yang menjadi manusia. Dalam nama-Nya yang berkuasa kami berdoa. Amin.